Sabtu, 30 Maret 2013

Krisis Air Global


Krisis air secara global yang kerap terjadi dengan intensitas yang cukup mengkhawatirkan akan membuat bangsa-bangsa di dunia ke depan semakin sulit memperoleh air. Jumlah air yang bisa diperoleh per kepala akan menurun drastis pada masa-masa yang akan datang. Padahal, realitas menunjukkan kebutuhan air antarsektor terus meningkat baik secara kuantitas, kualitas, maupun kontinuitasnya. Itu sangat berpengaruh bagi semua aspek kehidupan manusia, bahkan makhluk hidup lainnya, sebagai efek langsung dari krisis air itu.

Sisakan Air untuk Generasi Mendatang
Dulu air dianggap tak memiliki nilai ekonomis. Air bersih dapat ditemukan di mana-mana. Nenek moyang kita yang meminum air tanpa direbus pun tak memberi dampak buruk bagi kesehatan mereka. Sekarang, air menjadi sesuatu yang bernilai tinggi jika dirupiahkan. Air tak lagi dapat langsung dikonsumsi seperti sebelumnya.
NENEK moyang kita mungkin tak pernah menyangka jika pada saat ini akan ada orang yang membeli air. Demikian pula hal yang dialami oleh suatu perusahaan air minum dalam kemasan yang mendapat cemoohan ketika hendak memulai usahanya. Nada-nada pesimis muncul dari orang-orang sekitar yang meragukan ide sang pengusaha. “Mana ada orang yang mau membeli air dalam kemasan.” Namun cemoohan orang tersebut akhirnya terbantahkan. Pada hari ini perusahaan air minum dalam kemasan tersebut mampu bertahan dan bahkan menjadi perusahaan nomor satu di Indonesia.
Menengok kedua hal di atas, kita dapat mengambil suatu hikmah. Bahwa air yang dahulunya dianggap tak memiliki nilai ekonomis, akhirnya menjadi sesuatu yang bernilai tinggi. Hal ini dapat menjadi bahan renungan bagi orang yang kritis melihat perubahan yang ada. Bagaimana air yang dulunya adalah sesuatu yang dengan mudah diperoleh, namun kini perlahan telah berubah. Air tak lagi dapat langsung digunakan seperti sebelumnya.
Sekarang ini air sebelum digunakan harus melalui berbagai proses terlebih dahulu. Bahkan perusahaan air minum yang bermunculan di mana-mana menandakan bahwa perlahan air berubah menjadi seuatu yang sulit didapatkan. Dan hal yang lebih penting adalah bahwa persediaam air yang dapat dimanfaatkan sangatlah terbatas dibandingkan dengan jumlah air secara keseluruhan.
Seiring perkembangan zaman, pola perilaku kehidupan pun kian berubah. Berbagai kepentingan manusia modern yang akhirnya berbenturan dengan kelestarian alam. Ekploitasi sumber daya alam secara besar-besaran memberi dampak negatif terhadap alam. Pencemaran udara, rusaknya struktur tanah, pemanasan global, berubahnya iklim secara ekstrem dan banyak lagi dampak negatif lainnya. Pundi-pundi air di dalam perut bumi perlahan dikuras oleh orang-orang yang tak berpikir panjang. Mereka hanya mementingkan diri tanpa memikirkan nasib generasi berikutnya. Kegiatan penambangan yang berdalih demi kesejahteraan manusia berdampak sebaliknya dengan hilangnya simpanan air di dalam perut bumi.
Bersyukurlah kita sebagai bangsa Indonesia yang dikaruaniai sumber air melimpah. Tinggal bagaimana kita bijaksana dalam mengelola dan memanfaatkannya. Banjir dan kekeringan yang telah melanda sebagian wilayah adalah peringatan besar bagi kita. Diketahui bersama bahwa terjadinya banjir dikarenakan tidak adanya penyerapan terhadap air hujan, sehingga air menggenang kemana-mana di permukaan tanah. Air hujan yang melimpah akhirnya mengalir ke muara setelah merendam pemukiman warga. Setelah musim berganti, kemarau tiba. Kekeringan pun tak terelakkan. Air yang melimpah pada musim hujan tak tersimpan baik sehingga masyarakat mengalami kekurangan air.
Manusia tidak bisa memproduksi air, kita hanya bisa memindahkannya dan membuatnya murni atau tercemar. Di bumi, Alloh menuangkan ±70% permukaannya dengan air. Bahkan dalam tubuh manusia pun, rata-rata 65% -nya terdiri atas air. Alloh juga menciptakan fenomena hujan untuk mengatur persebaran air secara alami di tempat manusia berpijak.
Di bangku Sekolah Dasar, kita dapati pemahaman bahwa air termasuk benda yang dapat diperbarui. Namun kenyataanya, kepadatan manusia yang tinggi terus memanfaatkan dan sekaligus mencemar air bersih, dengan kecepatan yang melebihi kemampuan sistem hidrologi alam untuk membersihkannya kembali. Sebuah teguran bagi kita, apakah kita sudah andil memperbarui atau belum?
Bercermin pada perkotaan Indonesia, ternyata kemajuan teknologi kita dan perputaran perekonomian masyarakat yang cepat bukan jadi jaminan pengelolaan air bersih oleh manusia. Sadar atau tidak, air bersih sekarang sudah merupakan komoditi yang “langka” dan relatif mahal – khususnya di perkotaan.
Menengok pada Ibu Kota Jakarta, maka didapati sekitar 20% dari penduduknya belum memiliki kakus. Ini berarti kurang lebih kotoran dari dua juta manusia setiap harinya langsung dilepas  dalam resapan tanan, aliran kali, sungai serta pesisir. Demikian pula soal sampah, berat limbah padat yang mencemari dalam sistem air tanah dan sungai Jakarta diperkirakan setara dengan beban 140 gajah (kalikan ±6 ton) – setiap hari. Belum lagi sekitar 400.000 liter limbah cair yang setiap hari “dituang” ke dalam sistem kali dan sungai Ibu Kota.
Terima atau tidak, ketidaksyukuran yang sistematis ini membawa petaka yang dihadapi bersama. Berdasarkan pengamatan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLDH) 60% air bersih di Jakarta sudah tidak layak minum serta 13 aliran sungai besar di Jakarta berstatus tercemar berat. Tingginya eskploitasi air tanah di Jakarta juga sebabkan hilangnya air dari bebatuan purba, bukan dari resapan air. Air tanah yang diambil bukan lagi hasil serapan. Pembangunan hunian baru pun bukan berarti menyesuaikan, menurut BPLDH 50% hunian apartemen Jakarta tidak memiliki fasilitas pengolahan limbah.
Proses pemanfaatan air yang  ternyata memberikan umpan balik negatif pada lingkungan tidak membuat sistem sosial kita berhenti, dan mengevaluasi. Tidak ada pengawasan kuat membuat pengeboran bor artesis seakan liar, baik kebutuhan rumah pribadi hingga gedung. Ditambah dengan beban bangunan yang memadati Jakarta. Hal tersebut telah akibatkan penurunan permukaan tanah Jakarta di beberapa tempat hingga secepat 25 cm pertahun. Hasil penelitian konsorsium Jakarta Coastal Defence Strategy di tahun 2010 menyebutkan sekitar 40% wilayah Jakarta berada di permukaan Laut. Tidak hanya Jakarta, intrusi air laut ke dalam deposit air tanah kini sudah lazim terjadi di kota besar pesisir.
Kelengahan kita mengelola air membawa konsekuensi finansial. Air bersih di Jakarta termasuk yang termahal di dunia. Tarif air yang besar harus ditanggung sekitar separuh penduduk Jakarta yang bisa menikmati fasilitas penyaluran air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Separuh lainnya ‘berebutan’ memanfaatkan air tanah melalui pengeboran sumur-sumur, itupun jika beruntung cadangan air tanah masih ada dan layak minum. Alternatif lainnya adalah membeli air jerigen eceran, dengan harga yang berlipat-lipat kali lebih mahal dari PDAM.
Setiap hari kita menggunakan air, namun permulaan kisah perjalanan air yang kita tahu hanya sebatas dari keran di tempat tinggal kita. Tapi kenyataanya,  kini mata air yang titik awal kemunculan air di hulu, semakin menyusut jumlah sumberannya akibat aktifitas penebangan hutan besar-besaran, khususnya hutan resapan. Sebab ini, hemat penggunaan benda berbahan dasar kayu, kertas dan tissue juga bagian dari pelestarian air bersih.
Dengan ironi air saat ini, akankah membuat kita lebih bijak mengelola air? Ataukah terus berlomba-lomba mengambil yang tersisa. Sejauh apa kesadaran kita mau bertanggung-jawab pada alam? Terpenting, sebarapa besar kesungguhan kita untuk menyisakan air bersih untuk Generasi Penerus?.//**
Tampung Air Hujan dengan Sumur Resapan
SUMUR Resapan adalah sistem peresepan yang mampu menampung air hujan yang langsung melalui atap atau pipa talang bangunan. Bentuknya bisa berupa sumur, kolam, parit, atau lubang biopori.
Fungsinya adalah untuk meresapkan air ke dalam tanah atau mengisi kembali air tanah yang dangkal. Tujuannya untuk mengurangi erosi, menyimpan dan menaikan permukaan air tanah dalam rangka penyelamatan sumberdaya air.
Air yang diresapkan haruslah air hujan yang tidak tercemar limbah industri maupun limbah rumah tangga (minimal mutu air kelas tiga).
Bagaimana sebenarnya sumur resapan itu bekerja? Air hujan yang jatuh ke halaman kita setidaknya 85 persen harus bias diserap oleh halaman tersebut agar tidak meluapkan banjir. Halaman rumah kita secara alamiah bisa menyerap curahan air hujanyang jatuh, termasuk dari atap rumah, yang mengalir melalui talang. Di sini sumur resapan akan mengurangi sumbangan bencana banjir dengan mengurangi sumbangan run off air hujan.
Di bawah tanah, resapan ini akan masuk merembes lapisan tanah yang disebut sebagai lapisan tidak jenuh, dimana tanah (dari berbagai jenis) masih bisa menyerap air, kemudian masuk menembus permukaan tanah (water table) di mana di bawahnya terdapat air tanah (ground water) yang terperangkap di lapisan tanah yang jenuh. Air tanah inilah yang sebenarnya kita konsumsi.
Masuknya air hujan melalui peresapan inilah yang menjaga cadangan air tanah agar tetap bisa dicapai dengan mudah. Ini karena permukaan air tanah memang bisa berubah-ubah, tergantung dari suplai dan eksploitasinya. Dengan teralirkan ke dalam sumur resapan, air hujan yang jatuh di areal rumah kita tidak terbuang percuma ke selokan lalu mengalir ke sungai.
Bagaimana sebaiknya Sumur Resapan di pekarangan rumah kita dibuat? Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor: 06-2459-2002 tentang Spesifikasi Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan menetapkan beberapa persyaratan umum yang harus dipenuhi sebuah sumur resapan yaitu:
1. Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam atau labil.
2. Sumur resapan harus dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum 5 meter diukur dari tepi), dan berjarak minimum 1 meter dari fondasi bangunan.
3. Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal dua meter di bawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air (water table) tanah minimum 1,50 meter pada musim hujan.
4. Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan tanah menyerap air) lebih besar atau sama dengan 2,0 cm per jam (artinya, genangan air setinggi 2 cm akan teresap habis dalam 1 jam), dengan tiga klasifikasi, yaitu: (1) Permeabilitas sedang, yaitu 2,0-3,6 cm per jam; (2) Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus), yaitu 3,6-36 cm per jam; dan (3) Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar), yaitu lebih besar dari 36 cm per jam.
Adapun beberapa ketentuan lain untuk pembangunan konstruksi sumur resapan adalah:
1. Sumur resapan harus memiliki tangkapan air hujan berupa suatu bentang lahan baik berupa lahan pertanian atau atap rumah.
2. Sebaiknya dilakukan penyaringan air di bak  kontrol terlebih dahulu sebelum masuk kedalam sumur resapan.
3. Bak kontrol terdiri dari beberapa lapisan  berturut-turut adalah lapisan gravel (kerikil), pasir kasar, pasir dan   ijuk.
4. Dasar sumur yang berada di lapisan kedap air diisi batu pecah ukuran 10-20 cm, pecahan bata merah ukuran 5-10 cm setebal 15 cm, ijuk, serta arang. Pecahan batu tersebut disusun berongga.
5. Menggunakan pipa PVC berdiameter 110 mm untuk pipa pemasukan dan pipa pengeluaran. Untuk pipa pengeluaran letaknya lebih rendah dari pada pipa pemasukan sebagai antisipasi manakala terjadi overflow/luapan air di dalam sumur.
6. Diameter sumur bervariasi tergantung pada besarnya curah hujan, luas tangkapan air, konduktifitas hidrolika lapisan aquifer, tebal lapisan aquifer dan daya tampung lapisan aquifer. Pada umumnya diameter berkisar antara 1 – 1,5 m sedalam ± 1,5 m
7. Tergantung pada tingkat kelabilan/kondisi lapisan tanah dan ketersediaan dana yang ada, dinding sumur dapat dilapis pasangan batu bata kosong atau buis beton. Akan lebih baik bila dinding sumur dibuat lubang-lubang air dapat meresap juga secara horizontal.
8. Untuk menghindari terjadinya gangguan atau kecelakaan maka bibir sumur dapat dipertinggi dengan pasangan bata dan atau ditutup dengan papan/plesteran atau plat beton.//**
Teknologi Desalinasi untuk Menyuling Air Laut
PENGOLAHAN air laut menjadi air tawar layak pakai dan minum dikenal juga dengan istilah desalinasi. Proses ini dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu, pertama, proses destilasi atau poses penyulingan. Air laut dengan kandungan berbagai zat dipisahkan dengan cara pemanasan sehingga unsur air akan menguap. Selanjutnya uap air ini didinginkan menjadi titik air yang selanjutnya dapat ditampung menjadi sekumpulan air bersih layak pakai dan minum. Komponen lain seprti logam atau garam yang ada dalam air laut akan tertinggal  dengan sendirinya berdasarkan kaedah gravitasi.
Dalam desalinasi selain menghasilkan air yang layak minum, proses ini dapat juga menghasilkan garam dapur ataupun air berkadar garam tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai kolam apung sebagaimana salah satu wahana di Taman Impian Jaya Ancol.
Dengan memanfaatkan air laut dan mengolahnya sebagai air minum berarti juga mengurangi pemakaian air bawah tanah yang diyakini sebagai penyebab utama penurunan tanah di berbagai tempat terutama di Jakarta. Bahkan, tingkat penurunan tanah akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan di Jakarta, membuat kita was-was akan bahaya tenggelamnya ibu kota negara kita dalam beberapa puluh tahun kedepan.
Teknologi desalinasi bukan sesuatu yang mustahil dan tidak mungkin. Dalam penanganan bencana tsunami di Aceh, Australia telah membuktikan penerapan teknologi ini dengan mengolah air laut menjadi air minum yang layak konsumsi bagi korban bencana alam.
Indonesia juga telah menerapkan teknologi desalinasi ini. PT Pembangunan Jaya Ancol, pengelola Taman Impian Jaya Ancol menggunakan teknologi desalinasi guna menghasilkan air tawar untuk memenuhi kebutuhan tempat rekreasi tersebut sekaligus menghasilkan air berkadar garam sangat tinggi sebagai hasil sampingan. Air berkadar garam sangat tinggi ini dialirkan dalam Kolam Apung Wahana Atlantis Ancol.
Berbagai negara juga telah menerapkan teknologi desalinasi ini, seperti Amerika Serikat (el Paso, Texas; memproduksi 104 ribu meter kubik air/hari). Uni Emirat Arab (mempunyai 3 lokasi, salah satunya Fujairah F2 yang memproduksi 492 juta liter/hari). Kemudian Inggris, Israel, Trinidad, Cyprus dan beberapa negara lainnya.
Terdapat beberapa cara dan metode desalinasi diantaranya yang tradisonal adalah dengan menggunakan metode vacuum distillation. Prinsipnya yaitu dengan memanaskan air laut untuk menghasilkan uap air, yang selanjutnya dikondensasi untuk menghasilkan air bersih.
Cara yang paling umum adalah menggunakan metode osmosis terbalik (reverse osmosis atau RO). Osmosis terbalik dianggap yang paling efektif dalam melakukan desalinasi dalam skala besar. Prinsip kerja metode ini adalah dengan mendesak air laut melewati membran-membran semi-permeabel untuk menyaring kandungan garamnya.
Dengan metode osmosis terbalik (reverse osmosis) Taman Impian Jaya Ancol mampu menyulap 7.000 meter kubik air laut menjadi 5.000 m kubik air tawar dan 2.000 m kubik air berkadar garam sangat tinggi. Untuk menghasilkan air bersih dari air laut ini dibutuhkan energi listrik sebesar 4,72 kilowatt jam per meter kubik. Dengan rata-rata tarif listrik yang Rp 1000 /kw, untuk memproduksi 1 liter air bersih melalui desalinasi membutuhkan biaya sekitar Rp 4.700.
Sepertinya sudah saatnya pemerintah melalui PDAM melirik teknologi desalinasi ini sebagai salah satu upaya untuk mencukupi kebutuhan air bersih sekaligus menghentikan laju penurunan tanah. //**
Perlu Komitmen Kuat untuk Hemat Air
KRISIS air tidak datang seketika, tapi merupakan dampak kolaborasi aktifitas manusia. Demikian juga solusinya, tergantung bagaimana kita serentak dan rutin memberi kesempatan alam untuk pulihkan air. Kita juga sudah tahu air bersih semakin menipis. Tidak sedikit juga di antara kita yang sulit mendapatkanya. Maka pastikan kita mulai irit menggunakan air, jangan isrof, berlebihan.
Di tahun 2006, Departemen Pekerjaan Umum mensurvei bahwa setiap orang di perkotaan rata-rata menggunakan air sebanyak 144 liter perharinya. Sekitar 45% atau 60 liter digunakan untuk mandi per orang per hari. Ini belum bicara “memandikan” kendaraan pribadi kita.
Hal yang tidak kalah penting adalah mendaur-ulang air. Bantu tanah menyerap air kembali dengan membuat lubang biopori. Biopori membantu memaksimalkan kembali kemampuan tanah menambah volume air tanah. Biopori bukan sebuah saran, namun sebuah kewajiban.
Kemudian, jika memungkinkan, pastikan ada sumur resapan terdapat di rumah tinggal Anda. Membuat sumur resapan membutuhkan biaya lebih besar dari lubang resapan biopori. Namun lebih efektif dalam menyerapkan hujan kembali ke dalam tanah.
Lubang biopori adalah sebuah lubang dengan diameter 10 sampai 30 cm dengan panjang 30 sampai 100 cm yang ditutupi oleh sampah organik yang berfungsi untuk menjebak air yang mengalir di sekitarnya, sehingga dapat menjadi sumber cadangan air bagi air bawah tanah, tumbuhan di sekitarnya serta dapat juga membantu pelapukan sampah organic menjadi kompos yang bisa dipakai untuk pupuk bagi tumbuh-tumbuhan.
Sedangkan sumur resapan adalah bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai tempat menampung air hujan yang jatuh di atas atap rumah atau daerah kedap air dan meresapkannya ke dalam tanah.
Sudah lazim, saat musim hujan, masyarakat perkotaan, seperti di Jakarta misalnya, kerap mengkonotasikan hujan dengan banjir. Potensi hujan sebagai sumber daya air seakan terlupakan. Padahal pengumpulan air hujan di Indonesia sudah lama menjadi strategi konservasi air masyarakat pedesaan dan transmigran – terutama penduduk yang menghuni jauh dari aliran sungai.
Rainwater Harvesting (RWH), atau ‘panen hujan’ adalah proses menampung air hujan dan air ini digunakan kembali untuk berbagai kepentingan, misalnya keperluan irigasi (taman dan kawasan hijau), mencuci, bilasan toilet, hingga bisa juga untuk diminum (setelah diproses sehingga kualitasnya memenuhi standar air minum).
Di kota besar di Korea, sistem RWH lazim digunakan untuk keperluan irigasi (menyirami tanaman), serta membilas toilet. Untuk keperluan mencuci dan minum, juga bisa, namun membutuhkan proses analisa, filtering, dan sterilisasi lebih lanjut. Professor Mooyoung Han, seorang pakar RWH, saat mengunjungi Aceh pasca-tsunami, sempat mendisain sistem penampungan air ujan senilai Rp 500.000,- saja. Bagi kita yang sedang dilanda kesulitan akses air, strategi rendah biaya semacam ini berharga sekali.
Demikian juga Jepang, mereka memiliki sistem RWH di kota besar bernama ‘rojison’, namun lebih menekankan fungsi keamanan dan perlindungan lingkungan. Prinsipnya sama dengan RWH, namun air hujan atau air salju ditampung di tangki bawah tanah dengan pompa yang bisa diakses publik dari atas. Penggunaan air diutamakan bagi masyarakat untuk pencegahan awal kebakaran serta sanitasi darurat (mandi, mencuci) di saat musim panas dan cadangan air tanah sangat sedikit.
Membangun kebiasaan posistif perlu komitmen kuat. Tidak itu saja. Tindakan konservatif atau hemat juga membangun kesabaran, baik waktu dan emosi. Di masyarakat kita, kadang perilaku hemat dibalas dengan stigma sosial sebagai ‘tidak-mampu’ atau ‘miskin’. Demikian juga itu dampak positif  kadang tidak terasa atau terlihat saat itu juga. Namun jiwa yang sehat dan teguh akan mudah menepis ini. Ini perlu dibekali keyakinan kuat, bahwa berpengaruh atau tidaknya tindakan positif kita, Alloh jua yang akan membalasnya. //**
Jangan Isrof, Gunakan Air Secukupnya
BANYAK cara mudah yang dapat dilakukan untuk menghemat air di rumah. Kiat-kiat hemat air itu diantaranya adalah:
1. Matikan keran saat sedang menggosok gigi.  Membiarkan keran terbuka 1 menit sama saja dengan membiarkan 9 liter air terbuang percuma. Akan lebih hemat lagi jika menggunakan gelas sehingga air tidak mengucur terus menerus.
2. Jika mungkin, mandilah dengan menggunakan shower. Mandi dengan shower 3 kali lebih hemat air daripada mandi dengan gayung.
3. Segera perbaiki keran yang bocor. Keran bocor bisa membuang air bersih hingga 13 liter air per hari.
4. Gunakan kloset yang mengunakan dua sistem pembilasan air. Setiap sistem pembilasan bekerja sesuai dengan volume air yang dikeluarkan. Bila kloset hanya digunakan untuk buang air kecil, gunakan pembilasan dengan volume kecil yang tentunya lebih hemat konsumsi air.
5. Pilihlah jenis mesin cuci yang hanya membutuhkan sedikit air.
6. Jika minum air memakai gelas, isilah gelas dengan secukupnya sehingga air habis terminum seluruhnya. Hindari meminum air hanya separuh gelas atau tidak menghabiskan air minum dalam kemasan plastik.
7. Letakkan sebuah ember atau tempat penampungan dibawah kran wudhu, air yang tertampung selama berwudhu bisa digunakan untuk membersih kamar mandi, WC, atau untuk menyiram tanaman.
8. Gunakan air bekas cucian sayuran dan buah untuk menyiram tanaman. Selain hemat, air bekas cucian sayur, buah dan daging ternyata bisa menyuburkan tanaman.
9. Jika mungkin, hindari penggunaan selang. Gunakan kaleng penyiram tanaman atau ember untuk mencuci mobil.
10. Siramlah tanaman di sore atau pagi hari agar air mudah meresap ke dalam akar. Penyiraman pada siang hari hanya membuat air menguap percuma.
11. Buatlah lubang-lubang biopori di taman atau di sekitar rumah. Lubang ini membantu mempercepat proses penyerapan air ke dalam tanah, sehingga dapat mengurangi jumlah air yang menguap bebas ke alam.//**