Kamis, 21 Maret 2013

LDII resmikan Majelis Taujih Wal Irsyad dan Green Dakwah



Rabu, 11 April 2012 19:41 WIB
menteri agama dalam acara pembukaan rakernas ldii 2012Menteri Agama Suryadharma Ali menjawab pertanyaan wartawan di Bogor (11/4). (FOTO ANTARA/Jafkhairi)
Jakarta (ANTARA News) -  Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) meresmikan berdirinya Majelis Taujih Wal Irsyad yang bertugas melakukan analisis terhadap dinamika kehidupan berbangsa dan beragama melalui telaah Alquran dan Alhadits untuk menyelesaikan berbagai problema yang dihadapi umat Islam.
Peresmian berdirinya majelis itu dilakukan oleh Menteri Agama Suryadharma Ali sekaligus membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas LDII) di IPB International Convention Center, Bogor, Jabar, Rabu (11/4).

Pada kesempatan itu Menteri Agama Suryadharma Ali yang didampingi Ketua Umum DPP LDII Prof Dr Abdullah Syam, menyambut baik berbagai kegiatan positif LDII yang diharapkan dapat menghapus  stigma yang muncul  Indonesia saat ini dianggap menghambat kebebasan untuk memeluk agama.
Siaran pers Humas LDII yang diterima di Jakarta, Rabu, menyebutkan, Rakernas LDII di Bogor, 11--12 April 2012 itu mengambil tema "Pengembangan SDM profesional religius untuk Indonesia sejahtera, demokratis dan berkeadilan sosial" dan bertujuan untuk membuat program prioritas yang disesuaikan dengan dinamika sosial, politik dan ekonomi yang terjadi di tanah air. Program-program itu nantinya mengerucut pada pembentukan sumber daya manusia yang profesional dan berakhlak mulia.
Dalam Rakernas LDII juga memberikan penghargaan kepada sejumlah tokoh yang memberikan kontribusi nyata dalam dakwah bil hal, di antaranya Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dan  Gubernur Sultra Nur Alam (untuk pengembangan wisata bahari); Ketua PBNU Prof Dr Aqil Siradj ( untuk ukhuwah Islamiyah dan wawasan kebangsaan); Prof Dr Malik Fajar (untuk pengembangan pendidikan); dan Bupati Ogan Komering Ilir Ishak Mekki (untuk pembangunan pertanian).

Menurut Abdullah Syam, bahawa penghargaan itu terkait dengan komitmen LDII untuk melakukan kampanye Green Dakwah yaitu dakwah yang mengedepankan, yaitu pertama dakwah berdasarkan Alquran dan Alhadits; kedua, kesalehan sosial dan dakwah dengan santun dan sejuk; ketiga, dakwah yang membawa kemaslahatan umat; keempat, dakwah dengan melakukan penghijauan dengan dasar bahwa menanam pohon adalah sedekah; kelima, tasamuh atau saling mengenal; keenam, saling memahami; ketujuh, saling menolong dan memahami.
"LDII ingin agar umat Islam di Indonesia memiliki kesalehan sosial dan kemandirian individu. Untuk mencapainya LDII telah bekerjasam dengan ormas lainnya seperti PBNU,” katanya.

Abdullah menambahkan, LDII merupakan organisasi masyarakat berbasis agama Islam secara struktural memiliki 33 DPD provinsi, 353 DPD Kota/Kabupaten, 4.500 pengurus cabang (PC ) dan pengurus anak cabang (PAC)  seluruh Indonesia.
LDII sangat menjunjung kerukunan umat dan kesatuan NKRI bertujuan meningkatkan peradaban hidup, harkat, dan martabat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara turut serta dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. LDII mendukung terwujudnya masyarakat madani yang demokratis, berakhlaq mulia, sadar akan harga diri bangsa dan berkeadilan social berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.(*) Editor: Ruslan Burhani

Cara Beribadah Warga LDII


Berbedakah Cara Ibadah Warga LDII dengan Umat Islam Lainnya ??

Ibadah Orang Islam
Jawabnya TIDAK .. !!
Rukun Islam ada 5, satu di antaranya shalat. Sedangkan dalam shalat ada 13 rukun dimulai Takbiratul Ihram hingga Salam. Dalam shalat wajib 5 waktu, warga LDII juga melaksanakan 13 rukun yang diwajibkan.
Memang sedikit terjadi perbedaan dalam shalat. Itu pun hanya “fur’iyyah” yang tidak perlu didiskusikan.Yakni, mereka tidak “menzaharkan” membaca Bismillah, tetapi hanya “mensirkan” serta tidak membaca doa qunut pada Shalat Shubuh, tetapi mereka tetap mengangkat tangan ketika KH Zulfiqar Hajar memimpin doa usai taushiyah.
Dari perjalanan “Muhibbah Tabayyun” ke 2 Ponpes LDII di Ponpes Wali Barokah Kediri dan Ponpes Gadingmangu di Jombang tidak terlihat sama sekali penyimpangan dalam shalat. Santri-santriwati yang berjumlah 2.000an di setiap Ponpes secara khusyu’ mengikuti setiap prosesing dalam shalat tersebut. Bahkan, imam dalam shalat tersebut hafiz Alquran lulusan Mekkah (Arab Saudi).
Ada keistimewaan kedua Ponpes itu yang (mungkin) tidak dipunyai Ponpes-ponpes milik Ormas Islam lainnya. Yakni, para santri-santriwati membaca Alquran setelah shalat sunnah (rawatib) pada setiap shalat wajib hingga muazzin mengumandangkan qomat.
Selain itu, mereka setiap malam melaksanakan “Shalat Malam” (Shalat Tahajjud) dimulai pukul 02.00-03.00 WIB serta senantiasa mengucapkan “Shallallahu alaihi wasallam” ketika pentaushiyah mengajak bershalawat kepada Rasulullah SAW.
Dalam bidang kebersihan, seharusnya umat Islam mau belajar dengan LDII. Sebab, LDII benar-benar mengamalkan Hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “ “Annazhofatu minal iman” (kebersihan itu bagian dari iman).
Rombongan ulama termasuk wartawan Skala menyaksikan secara langsung, bagaimana kebersihan itu harus senantiasa dijaga. Tidak saja kamar tidur yang bersih dan teratur, bahkan kamar mandi juga sangat bersih dengan nenyediakan sandal/selop serta ada “batasan suci”, sehingga sandal/selop tidak boleh berada di tempat “batasan suci” serta lantai dalam dan luar setiap gedung senantiasa tetap bersih.
Satu hal sangat mengagumkan, usai shalat wajib, rombongan ulama menyaksikan sepatu dan sandal/selop tersusun rapi di anak tangga masjid dalam posisi siap pakai.
Begitu juga kebersihan anak dan pegangan tangga serta lantai yang berada di menara agung Masjid Baitul A’la di Ponpes Wali Barokah Kediri setinggi 99 meter atau 23 lantai (Asmaul Husna) yang di kubahnya terdapat 60 Kg emas murni sangat bersih. Ini terbukti tidak berdebu. Begitu juga lantainya, sehingga rombongan ulama Medan yang naik hingga ke puncak menara tidak merasakan adanya kotoran di tangan dan kaki, karena rombongan hanya “berkaki ayam”.
Selain senantiasa menjaga kebersihan, warga LDII juga sangat disiplin, rukun, kompak dan sangat memuliakan tamu yang berkunjung dengan memberikan fasilitas sangat memadai. Mereka benar-benar mengamalkan Hadits Rasulullah SAW yang maknanya :”Siapa-siapa yang berman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia memuliakan tamu”.
Jadi, tidak mengherankan tetamu datang dari berbagai penjuru nusantara. Tidak saja dari seputaran Pulau Jawa saja, tetapi juga dari pula-pulau lain beragam provinsi da kabupaten/kota datang “bertabayyun” ke dua Ponpes LDII itu.
Dalam pengajaran, para santri-santriwati tidak “alergi” dengan pentaushiyah dari luar LDII. Seperti taushiyah disampaikan KH Amiruddin MS dan Drs H Amhar Nasution MA usai Shalat Shubuh dan Zuhur. Ini artinya, warga LDII sudah bersifat terbuka tidak eksklusif sebagaimana yang terjadi pada paradigma lama. Namun, dengan paradigma baru, mereka lebih terbuka lagi kepada masyarakat umum.
Paradigma baru ini bukan dalam perbaharuan akidah. Mereka tetap mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Mahaesa dan Nabi Muhammad bin Abdullah SAW sebagai Rasul dan utusan Allah, berpegang teguh kepada Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW (Hadits) serta patuh kepada pemimpin dan ulama.
Dalam bidang sosial-kemasyarakatan, baik sebagai tuan rumah maupun peserta, warga LDII ikut aktif. Seperti kegiatan-kegiatan ilmiah dan keagamaan semisal MTQ dan berbagai pelatihan kepemimpinan serta kegiatan lain berupa khitanan massal, penghijauan dan gotong-royong. (HA Ramadhan)

Rabu, 13 Maret 2013

Kerjasama NU dengan LDII


Kerjasama NU Dengan LDII

Salah satu kerjasamanya,  deradikalisasi (pencegahan radikalisasi) melalui dakwah yang lembut, sejuk seperti dicontohkan dakwah Nabi Muhammad Saw.
Itu disampaikan Ketua Umum  LDII Prof Dr KH Abdulah Sam saat bertemu dengan Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj, di Kantor PBNU, Jakarta, Kamis. Dalam pertemuan itu, hadir pengurus LDII di antaranya, Ir H Chriswanto Santoso, MSc
Chriswanto menambahkan ada lima kerjasama LDII dengan PBNU yakni, pertama, dakwah deradikalisasi, kita mengembangkan dakwa bersama-sama yang bersifat yang sejuk dan lembut untuk mencegah radikalisasi.
Kedua, kata dia, lingkungan hidup dan penanggulangan bencana. Ketiga, bidang pendidikan, keempat, bidang kedaulatan pangan dan kelima adalah tetap tegaknya NKRI (Negara Kesatuan RI).
“Kerjasama ini akan ditandatangani pada rapat kerja nasional (rakernas) LDII di Bogor pada tanggal 11-12 April 2012,” kata Chriswanto.
Menyangkut deradikalisasi, konkretnya mulai pelatihan dakwah sampai dakwah bersama, termasuk pembinaan para da’i dan mubaligh antara NU dan LDII.
“Karena kita tidak mungkin memerangi secara fisik dan yang bisa kita lakukan adalah memberikan penerangan kepada masyarakat agar tidak masuk dalam radikalisasi,” papar Chriswanto. (johara/dms)
Teks Foto : Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj (kiri), Ketua Umum LDII Abdulah Sam dan Chriswanto Susanto. 

Senin, 11 Maret 2013

Tips membersihkan wajah


Tips Membersihkan Wajah
Memiliki wajah bersih selain memperindah penampilan juga baik untuk kesehatan. Bagaimana cara membersihkan wajah? Berikut ini tips membersihkan wajah.
  • Cuci tangan, agar kotoran yang menempel pada telapak tangan Anda dapat segera disingkarkan. Tangan yang kotor malah membuat wajah menjadi kotor.
  • Basuh wajah Anda dengan menggunakan air hangat. Ini membantu membuat pori-pori menjadi terbuka sehingga kotoran dapat dengan lebih baik dikeluarkan. Kemudian keringkan dengan menggunakan handuk.
  • Gunakan pembersih wajah dan gunakan dengan cara membentuk arah melingkar pada wajah. Diamkan selama beberapa saat, kira-kira 1 menit, kemudian keringkan dengan menggunakan handuk kecil atau tisu.
  • Setelah pembersih wajah dibersihkan, gunakan air dingin untuk membasuh wajah. Tujuannya agar pori-pori wajah tertutup lagi.
  • Langkah terakhir dalam membersihkan wajah adalah dengan menggunakan toner. Kapas yang telah dibasahi toner kemudian ditepuk-tepukan pada wajah.
Ternyata tidak sulit membersihakan wajah. Namun kadangkala rasa malas yang menyerang atau cara yang kurang efektif membuat wajah tidak bersih sempurna dan akhirnya ditinggali jerawat atau komedo. Tetapi, dengan meluangkan sedikit waktu, Anda dapat mengetahui teknik membersihkan wajah.

Sabtu, 09 Maret 2013

Aliran Sesat LDII ???



LDII dewasa ini masih menjadi topik menarik untuk diperdebatkan...banyak fihak yang memancing di air keruh, mereka menggunakan isu-isu kuno dan ngawur yang mengatakan bahwa LDII adalah kepanjangan tangan dari Islam Jamaah yang dulu pernah dilarang oleh Jaksa Agung, ada lagi yang menyangkutkan dengan aliran Ahmadiyah bahkan kelompok Syiah. sungguh mengagumkan, sebuah organisasi resmi dan besar seperti LDII di sangkut pautkan dengan kelompok-kelompok tersebut. sebagai orang yang cerdas semestinya bisa melihat ada apakah dibalik semua kegaduhan tersebut. namun untuk lebih jernihnya mari kita simak beberapa pendapat ulama mengenai keberadaan LDII


1. KH Ma`ruf Amin - Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Pusat


LDII Harus Berani Menindak Jamaahnya yang Tidak Mau Melakukan Perubahan

Kita bisa mentolelir perbedaan, tetapi tidak bisa mentolelir penyimpangan. Penyimpangan ini harus diamputasi. Kita memberikan kesempatan kepada orang yang menyimpang itu untuk rujuk ilal haq. Kita mengeluarkan fatwa tentang sesatnya suatu kelompok jika kita telah melakukan investigasi secara mendalam terhadap kelompok itu.

LDII adalah salah satu lembaga yang fatwa terhadapnya terkait dengan Islam Jama’ah, karena ada prinsip-prinsip Islam Jama’ah yang dianggap menyimpang. Adapun fatwa MUI khusus tentang LDII tidak ada, namun jika ia menggunakan ajaran-ajaran Islam Jama’ah yang prinsip-prinsipnya menyimpang itu, maka ia terkait juga dengan fatwa tentang kesesatan Islam Jama’ah. Memang ada satu keputusan Munas MUI yang menyinggung nama. Dalam satu rekomendasi dinyatakan bahwa “Aliran sesat itu seperti Ahmadiyah, LDII.... .“ Kalimatnya berbunyi seperti itu. Kenapa LDII dijadikan bagian yang sesat? Karena LDII dianggap sebagai penjelmaan Islam Jama’ah.

Sesudah itu, LDII berusaha meninggalkan hal-hal yang menyebabkan kesesatannya itu. Mereka meminta audiensi ke MUI Pusat untuk mensosialisasikan apa yang disebutnya sebagai paradigma baru. Paradigma baru ini menegaskan bahwa LDII tidak menggunakan ajaran Islam Jama’ah sebagai satu landasan, meski dalam beberapa ajaran ada yang sama, yang berkaitan dengan amaliah, bukan i`tiqadiyah. Mereka meninggalkan ajaran Islam Jama’ah seperti menganggap najis kelompok lain. Mereka tidak lagi mencuci bekas tempat shalat orang lain, tidak mengkafirkan kelompok lain. Bahkan, mereka bersumpah di hadapan MUI Pusat bahwa itu bukanlah taqiyah. Sesudah itu mereka membuat pernyataan tertulis untuk menegaskan perubahan itu.

Dalam memandang LDII, MUI Pusat terbagi dalam dua pendapat. Pertama, kita menerima, kemudian kita lakukan penyesuaian ke daerah. Klarifikasi secara nasional diberikan, sedangkan klarifikasi di daerah diberikan secara parsial. Kedua, ada juga kelompok yang sangat mencurigai LDII, dan meminta klarifikasi dilakukan dari tingkat bawah (bottom up), baru klarifikasi nasional. Dengan demikian, ar-ruju’ ilal haq dilakukan secara qaulan wa fi`lan (dalam ucapan dan tindakan), bukan hanya statemen.

Ketika LDII dianggap melakukan ar-ruju` ilal haq, LDII dianggap sebagai entitas yang pernah melakukan penyimpangan, karena LDII dikaitkan dengan Islam Jama’ah. Dalam perjalanannya, LDII memiliki keinginan untuk kembali kepada kebenaran. Namun, ada kelompok-kelompok yang sangat keras, menentang, seolah-olah LDII tidak boleh bertaubat.

LDII sekarang dalam tahap verifikasi secara kelembagaan maupun secara grass roots. Saya melihat, secara kelembagaan mereka tidak ada masalah, dari pengurus pusat hingga pengurus daerah memiliki satu kata. Namun di tingkat bawah, kemungkinan masih ada masalah, karena masih ada generasi LDII yang berpegang pada Islam Jama’ah. Namun demikian, kondisi di bawah tidak sepenuhnya bisa kita jadikan indikasi bahwa LDII belum berubah. Kita meminta ketegasan dari pengurus LDII dalam menyikapi kadernya yang masih meneruskan ajaran Islam Jama’ah. Kelompok-kelompok yang tidak patuh harus dinyatakan bukan bagian dari LDII. Sehingga LDII tidak lagi terkontaminasi oleh kelompok-kelompok itu.

...

2. KH Alie Yafie - Tokoh Ulama


Tidak Boleh Sembarang, Tanpa Penelitian
Saya ingin menyampaikan bahwa memang menarik mengkaji perkembangan Islam di Indonesia. Bagian dari perkembangan tersebut, kita harus lihat LDII di situ. Jadi kita tidak boleh (menuding) sembarang, tanpa data dan fakta dari hasil penelitian. Karena saya tidak punya data yang cukup, saya tidak ingin memberikan vonis kepada LDII. Jadi saya anjurkan untuk melakukan penelitian yang mendalam, secara kekerabatan, tidak seperti polisi atau jaksa yang sedang menyelidik.

Intinya secara ukuwah Islamiyah. Jadi tahu bagaimana sejarahnya, apa faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan lain sebagainya. Jadi, sebagai ilmuwan, kita tidak boleh ngomong seperti orang awam. Itu harapan saya.

3. Prof. Dr. H. Utang Ranuwidjaya - Ketua Komisi Pengkajian dan Pengembangan MUI Pusat

LDII Perlu Konsisten dengan Paradigma Barunya
Konsep paradigma baru LDII sudah bagus kalau dilihat dari paparan yang mereka sampaikan. Hal itu saya kemukakan berdasarkan pemantauan saya di beberapa tempat seperti di Jakarta, Surabaya, Lampung dan Kediri. Sebenarnya, dengan paradigma baru tersebut, mereka ingin meninggalkan paham-paham yang dulu diwariskan oleh Islam Jama’ah. Bahkan sekarang, justru mereka ingin membersihkan paham-paham Islam Jama’ah tersebut, jika memang masih ada di dalam tubuh gerakan LDII. Paradigma baru LDII adalah suatu cerminan bahwa mereka ingin kembali ke pangkuan Majelis Ulama Indonesia untuk mendapatkan pembinaan, dan merupakan keinginan bersatu LDII dengan segenap kekuatan Islam Indonesia.

Namun demikian, proses sosialisasi paradigma baru LDII yang mereka lakukan baru sampai tingkat PAC, belum sampai ke grass roots. Kalau begitu kenyataannya, sosialisasi tersebut harus terus ditingkatkan dan diupayakan secara cepat dan maksimal. Selama ini, memang kita masih melihat dan mendengar laporan dari para pengurus atau pimpinan Majelis Ulama Indonesia, baik di Provinsi, Kabupaten atau Kota maupun MUI Kecamatan di mana di beberapa tempat masih ada pola-pola lama yang mereka terapkan.

Tapi pada umumnya, informasi dari MUI Provinsi dan Kabupaten atau Kota menyatakan bahwa sudah bagus pembinaan di internal LDII. Mereka (LDII) juga sudah membuka komunikasi dengan MUI dan ormas-ormas yang lain, meski di beberapa tempat masih terdapat kekakuan dari pihak LDII sendiri dalam berbaur dan dalam meninggalkan kesan-kesan eksklusifnya. Inilah sosialisasi paradigma baru LDII yang sedang dalam proses tersebut.

Pengurus LDII, baik pada tingkat Provinsi maupun Kabupaten sudah cukup tegas dalam menerapkan paradigma barunya. Bahkan, beberapa kali saya mendengar ucapan dari para pimpinan LDII Provinsi yang mengatakan, ”Andaikata masih ada yang menerapkan pola lama dan menjalankan paham-paham Islam Jama’ah, maka kepada mereka diminta untuk keluar dari LDII, dan dianggap itu bukan warga LDII.” Jadi, kalau melihat ketegasan semacam itu sih, saya agak optimis bahwa paham-paham tentang Islam Jama’ah secara bertahap akan ditinggalkan oleh organisasi LDII ini.

Sebenarnya, ajaran LDII itu perlu pendalaman dan penelitian lebih lanjut, karena di lapangan yang saya temukan hanya di permukaan. Tentunya, jawaban saya tidak begitu valid, karena belum mendalami apa yang terjadi di lapangan. Sebatas yang saya dengar, sebatas apa yang saya lihat, dan kesimpulan dari diskusi-diskusi dengan MUI di Provinsi dan Kabupaten, dimana memang masih ditemukan masalah-masalah implementasi di lapangan terkait dengan paradigma baru LDII. Ini harus terus dipantau sejauh mana mereka jujur, ikhlas, terbuka dan bertanggungjawab untuk melaksanakan paradigma barunya. Apakah itu menyangkut sesuatu yang sangat rahasia, ataupun yang biasa mereka buka itu, mestinya dilakukan pemantauan dan penelitian lebih lanjut di lapangan secara mendalam.

Sekarang ini, saya bukan melakukan penelitian ansih, tetapi (juga menggelar pelbagai kegiatan) seperti yang dilakukan di MUI Provinsi DKI Jakarta, itu juga dilakukan MUI di Provinsi yang lain yang saya temui. Jadi, sebenarnya kami memantau apa yang terjadi pada saat dilakukan klarifikasi antara LDII dengan MUI dan ormas-ormas lainnya di beberapa daerah. Ini bisa dikatakan sebagai sampel, atau sekedar melihat di beberapa daerah secara terbatas, dengan maksud untuk mengetahui sejauh mana sih sosialisasi yang mereka lakukan, dan sejauh mana pula masalah-masalah yang muncul dapat diketahui oleh Majelis Ulama Indonesia di beberapa daerah yang saya datangi tersebut.

...

4. Prof. Dr. KH. Said Agil Siradj - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama


Mereka Kita Anggap Mutanaththi`
Airan atau madzhab atau firaq islamiah itu, sepanjang masa akan tetap ada. Kajian mengenai al-Firaq al-Islamiah (firqah-firqah Islam) dan al-Firaq al-Kharijah `anil Islam (firqah-firqah yang keluar dari Islam) adalah salah satu mata kuliah wajib di Timur Tengah, baik itu di Ummul Qura Makkah maupun di Al-Azhar Kairo. Yang termasuk firqah Islam adalah Mu`tazilah, Khawarij, Jabariah, Qadariah, Murji’ah, Jahamiah; Syi`ah, Syi`ah Itsna `Asyariah, Imamiah, dan Zaidiah. Sedangkan firqah yang keluar dari Islam yaitu Syiah Ismailiah, Bahaiyah, Qadianiyah, dan lain-lain. Kelompok kedua ini dianggap keluar dari Islam karena mereka mengingkari prinsip-prinsip ma`ulima minaddin bidhdharuri (prinsip yang sangat fundamental dalam Islam).

Orang atau kelompok yang mengingkari ma’ulima minaddin bidhdharurah54 bisa dikategorikan sesat. Sedangkan kelompok atau orang yang mengingkari ma`ulima minaddin bitta`allum (hasil pemikiran/telaah/ijtihad) tidaklah sesat. Sampai-sampai, golongan Khawarij pun masih dianggap sebagai bagian dari kelompok Islam (firaq islamiah), padahal mereka telah membunuh Sayidina Ali Karramallahu Wajhah.

Di dalam Islam terdapat beragam aliran dan golongan. Sebagian besar golongan tersebut tidak bisa dianggap sesat, karena ada dua perbedaan, yaitu perbedaan yang bersifat wacana dan perbedaan yang bersifat aksi/amal. Lha, LDII ini perbedaannya amal. Mereka tidak kita anggap sesat, tetapi mutanaththi`, tanaththu`, orang yang eksklusif, kelompok eksklusif. Namun demikian, LDII masih dalam bagian firqah islamiah, karena meyakini apa yang disebut ma’ulima minaddin bidhdharurah, meski dalam beberapa hal LDII (menurut beberapa kalangan yang mengamati organisasi ini) berbeda dengan mayoritas ulama dalam menafsirkan ayat tertentu. Perbedaan penafsiran itu sendiri dalam banyak kesempatan dibantah oleh pengurus LDII. Seandainya dugaan para pengamat itu benar, perbedaan itu tidak menyebabkan LDII menyandang label ”sesat.” Itu tidak sesat, hanya salah atau sempit. Itu tanaththu`, mutanatti`, hatta Khawarij kita tidak mengatakan sesat. Padahal dia yang membunuh Sayidina Ali, kita tidak mengatakan sesat, tetapi mutasyaddid, mutatharrif.

Mutasyaddid (keras) dan mutatharrif (ekstrem atau keterlaluan) itu berbeda dengan menyimpang. Yang menyimpang adalah yang mengingkari ma`ulima minaddin bidhdharurah, yang bitta`allum tidak. Allah punya sifat berapa dan apa, itu bitta`allum. Di kalangan NU dan di kalangan Pesantren, ada juga kalangan yang eksklusif. Sampai-sampai, kaum perempuan sama sekali tidak boleh bertemu dengan laki-laki. Ada sebagian orang membaca takbiratul ihram berkali-kali, karena was-was, seakan-akan harus hati-hati. Justru hal ini adalah bagian dari sifat keterlaluan dan berlebihan.

LDII tidak bisa disamakan dengan Ahmadiah. Ahmadiah itu sesat karena mengingkari ma`ulima minaddin bidhdharurah, mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Saya menanggapi perubahan paradigma LDII secara positif. Paradigma Baru LDII harus disikapi dengan positif. Mereka (LDII) mengakui kesalahan, dalam tanda petik: kesalahan ajarannya atau kesalahan doktrinnya, bukan kesalahan aqidah. Aqidah nggak salah, dari awal nggak salah. Aqidah dia rukun iman yang enam itu. Rukun Islamnya juga sama. Ya seperti pesantren dulu, dimana Bahasa Inggris itu haram. Sekarang, justru membolehkan. NU sendiri, pada Muktamar tahun 30-an itu mengharamkan pakai dasi atau pakai celana. (Sekarang, tidak).

...

5. DR. M. Syafi’i Mufid, MA - Peneliti, Departemen Agama - Republik Indonesia

LDII Sekarang Ibarat Teori Gelombang

LDII yang saya ketahui itu kan sebuah organisasi Islam. Yang awalnya dari LEMKARI kemudian menjadi LDII. Nah, sebelumnya ada yang namanya Islam Jama’ah. Sebelum Islam Jama’ah, ada yang namanya Darul Hadits. Jadi, itu proses dimulainya sebuah tafsir terhadap ajaran-ajaran Islam tentang imamah (tentang jama’ah) kemudian implementasinya dalam bentuk gerakan, yang namanya gerakan Islam Jama’ah atau Darul Hadits.

Sebetulnya, ajaran inti dari yang kita kenal Islam Jama’ah itu adalah mengenai kejama’ahan dan keimamahan. Apa yang dipahami dari kawan-kawan Islam Jama’ah itu adalah atsar-nya dari Sayidina Umar yaitu la islama illa bil jama’ah walajamaata illa bil imamah wala imamata illa bithoah wala thoata illa bil bai’at. Kemudian mamata laisa lahu biatun mata mitatan jahiliyatan, haditsnya maupun atsarnya itu, lazim di kalangan umat Islam. Tidak merupakan sesuatu yang aneh, artinya masyhur (umum, dikenal). Yang menjadi aneh pada waktu itu adalah, kalau orang tidak masuk jama’ah, mereka itu dianggap bukan Islam. Itu masalahnya. Nah, ini kekeliruan penafsiran yang banyak dilakukan oleh kelompok-kelompok. Kemudian oleh Majelis Ulama Indonesia dikatakan sebagai kelompok sesat. Itu adalah klaim kebenaran yang hanya ada pada mereka. La islama illa bil jama’ah. Kata-kata jama’ah itu hanya untuk Darul Hadits, Islam Jama’ah. Kan begitu awalnya. Mestinya tidak begitu. Jadi, Islam Jama’ah adalah Al jama’ah min jamaatul muslimin. Jadi, satu jama’ah dari jama’ah-jama’ahnya umat Islam. Umat Islam itu banyak jama’ahnya. Tidak satu-satunya. Nah, disini yang menjadi krusial itu.

Bai’at itu, kalau kita kembali kepada sejarah sirah nabawiyah itu, kan ada bai’at aqobah, ada bai’atur ridwan. Nah, itu berbeda. Bai’at yang pertama itu, bai’at untuk menyatakan lailaha illallah muhammadurrasulullah, dan dia siap. Di Aqobah itu, orang Aus dan Hujrat yang datang menghadap Nabi itu, siap menerima kehadiran Nabi di Madinah, melindungi Nabi di Madinah, dan siap mengikuti ajaran Nabi Muhammad. itu bai’at aqobah. Kemudian bai’atur ridwan itu adalah umat Islam yang siap untuk menghadapi apapun yang terjadi. Ketika umat Islam mendapatkan berita bahwa utusan Nabi yang ke Mekkah itu di tahan oleh Quraisy, Utsman diutus untuk negosiasi dengan orang Quraisy. Waktu itu, Nabi tidak berkehendak perang, tapi ingin melakukan ibadah haji. Tapi akhirnya ditolak. Kemudian ada perjanjian. Kemudian Nabi kembali ke Madinah. Baru kemudian 2tahun berikutnya, Nabi pergi ke Mekkah. Nah, itu bai’at, dan ada bai’at lagi yaitu bai’at kepemimpinan ketika khalifah Umar membai’at Abu Bakar sebagai khalifah. Bai’at itu sebetulnya, ya kalau bahasa sekarang, bai’at kepada khalifah atau bai’at kepada khulafaur rosyidin. Ya, demokrasi itu dimana pemilih menyatakan aku setuju dengan anda. Nah, bai’at yang di LDII atau yang sejenis itu, hakikatnya adalah sama dengan bai’at kepada pemimpin. Pemimpinnya sebagai imam yang secara spesifik itu sama dengan bai’at orang-orang thariqot. Orang-orang thariqot juga bai’atnya untuk sami’na waatho’na terhadap guru atau mursyidnya. Nah kalau orang-orang Jama’ah ini sami’na waatho’na terhadap imamnya, itu sama dengan tidak masalah. Masih tetap dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan syari’at. Nah, yang bertentangan adalah tidak ada imam yang lain kecuali imamku, dan membai’at imam yang bukan imamku, batal. Itu kafir. Itu yang keliru. Siapapun yang berpandangan eksklusif semacam itu, keliru. Dan itu ciri dari jama’ah-jama’ah yang eksklusif seperti itu.

Ajaran manqul itu, sebetulnya ada dalam tradisi ulama-ulama nusantara, meskipun tidak dikatakan manqul. Itu kan ada istilah ijazah. Seorang ulama misalnya, saya pernah ngaji kepada guru saya untuk baca kitab ihya’. Setelah tamat baca ihya’, itu guru saya (kyai saya itu) memberikan ijazah kepada murid-muridnya yang mengikuti pengajian itu, termasuk saya, untuk sahnya membaca ihya’. Nah, saya bisa membaca ihya’, kayak begini itu dari guru saya. Guru saya itu mendapatkan kemampuannya itu dari gurunya. Itulah yang namanya silsilah. Manqul, kalau dipahami sebagai silsilah, kayak begitu. Biasa, wajar. Persoalannya, manqul itu adalah hadits yang diajarkan oleh gurunya. Itu sajalah yang benar. Tidak ada hadits yang benar kecuali yang diajarkan oleh gurunya. Padahal, jumlah hadits itu kan ratusan ribu. Nah, bagaimana dia bisa mengatakan hanya gurunya sajalah yang sah untuk meriwayatkan hadits ini. Kan lagi-lagi eksklusif. Di situ letak kekeliruannya. Manqul pada umumnya tidak ada masalah, karena dia tidak beranggapan bahwa hanya dengan jalan inilah orang bisa masuk syurga. Kecuali, kalau tidak mengikuti jalan ini, orang masuk neraka, di situ kemudian terjadi doktrin yang menyesatkan, karena jalan untuk menuju kebenaran itu banyak. hadits itu banyak. Kitab itu banyak pendapat. Nah, ini yang mereka itu tidak ada ketika masih dalam gerakan Islam Jama’ah.

Nah, ketika sudah menjadi LDII, saya sudah mendengar, saya sudah membaca Keputusan Rakernas LDII tahun 2007 bahwa memang LDII sudah mengubah paradigma lama dengan paradigma baru, termasuk ajaran tentang Islam Jama’ah, ajaran Manqul, ajaran tentang Imamah, Keamiran dan lain sebagainya sudah dihilangkan. Mereka sudah mengikuti sawadul a’dhom. Itu tertulis. Nah, sekarang apa iya seperti itu, tanyakan kepada orang-orang LDII. Sepengetahuan saya, pernah suatu ketika saya shalat jum’at di Masjid LDII di daerah Dago (Bandung). Sampai orang-orang sebagian bubar, saya masih shalat di situ. Kemudian saya pergi. Saya tinggalkan Masjid itu, tetapi saya pergi ke rumah seorang teman yang berdekatan dengan masjid itu. Saya yakin mereka tidak tahu, kalau saya mampir di depan Masjid itu. Nah di rumah teman itu, saya perhatikan dari rumah jendela kaca, saya perhatikan betul bahwa tidak ada seorangpun yang mencuci tempat di mana saya duduk dan saya sujud di Masjid itu. Karena anggapan bahwa kalau saya bukan anggota LDII adalah najis atau orang bukan Islam, ternyata tidak ada sampai akhirnya datang waktu shalat Ashar. Ketika shalat Ashar, saya datang lagi ke tempat itu. Kemudian saya memperkenalkan diri. Saya salaman kepada mereka. Lalu terjadilah dialog. Dia tanya, ”Bapak dari mana?” Saya dari Departemen Agama, lagi ada Rapat Kerja di Badung. Kebetulan saya ada keperluan ketemu dengan teman yang rumahnya dekat sini. Lalu saya shalat disini. ”Saya mau tahu apakah sudah ada perubahan di kalangan teman-teman di LDII apa nggak?,” Katanya, kalau ada orang shalat di LDII, dicuci. Ketika saya lihat sendiri, kok tidak dicuci bekas tempat saya tadi. Nah itu gimana? Kata mereka, ”Itulah pak, fitnah yang terjadi, dimana saya mencuci bekasnya orang shalat, nggak ada, itu fitnah.” Apakah dulu memang pernah terjadi seperti itu, atau itu memang sudah terjadi perubahan? ”Saya orang LDII yang berhak untuk menjawab.” Pengalaman saya yang seperti itu tidak sekali saja. Pada waktu lebaran kemarin, saya juga shalat di Masjid Pantura yang di situ ada spanduknya yang bertuliskan ”Mengucapkan selamat Idul Fitri.” Pada kanan kiri spanduk tersebut, ada simbol Majelis Ulama Indonesia dan simbol LDII. Boleh saya katakan bahwa Masjid yang saya pakai adalah masjidnya LDII. Ternyata di situ, yang menjadi Imam Maghrib --waktu itu masih dalam bulan Ramadhan-- itu bukan orang LDII. Dan orang-orang LDII yang tinggal di sekitar masjid juga ikut berjama’ah di situ. Masjid di situ tempat lalu lalang (banyak orang), dan tidak ada cuci-mencuci itu. Itulah pengalaman saya terhadap LDII.

...

6. DR. Adian Husaini, MA - Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII)


http://adianhusaini.blogspot.com/


Lebih Penting Praktek di Lapangan


Sejauh yang saya ketahui, MUI saat ini sedang melakukan penelitian dan harus dichek betul tentang persoalan inti LDII itu. Karena dulu, mereka dikenal (dituduh) dengan (isu-isu) doktrin-doktrinnya seperti ajaran manqul. Mereka (diisukan) mempunyai sanad sendiri dan merasa orang Islam yang lain bukan saudaranya. Bahkan, misalnya, dahulu jika kita menduduki kursi di rumahnya, lalu kursi itu dilap (dibersihkan) lagi. Orang Islam lain dianggap najis dan lain sebagainya. Mereka memakai Hadits tentang bai’at. Menurut mereka, kalau seseorang tidak berbai’at, maka orang itu akan mati seperti matinya orang jahiliyah. Yang mereka maksud dengan bai’at di sini adalah harus bai’at kepada imamnya. Nah, karena hal inilah kemudian, umat Islam yang lain menganggap mereka berada di kelompok yang sesat.

Jika sekarang mereka mengatakan ada paradigma baru, menurut saya hal itu perlu ditelaah. Apakah mereka betul serius? Apakah benar mereka sudah merevisi ajaran-ajarannya? Apakah benar mereka sudah menganggap se-Islam ini saudara se-Islamnya, dan mereka boleh menikah dengan orang Islam yang lain, dan mereka boleh bermakmum di belakang orang Islam yang lain. Apakah sudah seperti itu? Sebab sejauh ini, meskipun ada banyak perbedaan di antara ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dan lainnya, tetapi perbedaan itu tidak ada masalah. Termasuh menikah dengan ormas lain juga boleh, tidak menimbulkan masalah. Hal-hal semacam itu, saya kira perlu dievaluasi.

Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) selama ini mempercayakan masalah LDII kepada LPPI, karena LPPI memang dibentuk oleh tokoh-tokoh DDII untuk menangani masalah-masalah aliran. Dewan Dakwah tidak secara langsung melibatkan diri dalam penanganan LDII, Syiah, dan lain-lain.

Paradigma baru LDII itu perlu dicocokkan. Masalahnya, sekarang ini buku-buku yang beredar di jama’ah-jama’ah LDII itu adalah buku-buku yang lama. Apakah buku-buku dan ajaran-ajaran itu sudah direvisi? Jadi tidak cukup hanya dengan menyatakan bahwa mereka sudah berubah, tetapi kemudian ke dalamnya bagaimana? Sama dengan Ahmadiyah kan? Dalam melihat Ahmadiyah, pemerintah tidak cukup hanya dengan mendengarkan pernyataan mereka, tetapi harus melihat realita di lapangan. Itu yang lebih penting, karena masyarakat melihat sendiri kenyataan di lapangan. Misalnya, masyarakat melihat ada masjid LDII, apakah jama’ah masjid itu sudah berbaur dengan jama’ah yang lain? Kalau dulu mereka tidak mau shalat Jum’at dengan yang lain, mereka membuat jama’ah Jum’at sendiri. Nah, sekarang semua itu sudah berubah atau belum? Jadi, lebih penting praktek di lapangan, dan literatur lama itu harus ada revisi.

...

7. Drs. K.H. Munzir Tamam, MA - Ketua Umum Majelis Ulama Islam, Provinsi DKI Jakarta

Mereka Sudah Mau Kembali
Sesungguhnya, saya tidak pernah mendalami tentang LDII dan bagaimana sikapnya. Tetapi banyak dari orang-orang, dari mulut ke mulut, termasuk Kyai saya di Yogyakarta yang menjelaskan bahwa LDII sudah sangat menyimpang dari Islam yang selama ini kita yakini. Kemudian saya tanya beberapa orang, ya sama bahwa LDII seperti itu. Oleh karena waktu saya mengatakan LDII itu, sudah menggunakan paradigma baru, tidak seperti apa yang selama ini kita kenal, kata beliau (Kyai Saya), sudah mutawatir berita penyimpangan itu. Kalau dia mau tukar nama, ini meyakinkan saya bahwa yang selama ini dikenal dengan paradigma lama bertentangan sekali dengan Islam yang kita kenal.

Kan baru kemarin bahwa mereka mengatakan bukan dari Islam Jama’ah dan sebagainya. Kalau saya tidak tahu persis, apa itu mulanya. Tetapi yang jelas, pertama, LDII seperti yang dianggap oleh orang banyak bahwa ada penyimpangan. Kedua, menganggap kita itu selain daripada mereka adalah najis. Banyak cerita bahwa orang kita habis shalat di tempatnya disapu atau dicuci. Ketiga, anak saya pernah ke daerah Jawa Timur. Di sana, begitu mau masuk untuk numpang shalat, ada yang bilang ini bukan untuk orang Islam yang sembarangan. Berarti yang dia Islam bener, dan kita Islam sembarangan. Di sana, saya melihat apa yang dikatakan orang yang selama ini saya dengar itu, benar adanya. Dari situlah saya memang sejak dulu nggak mau ikut campur. Saya anggap sudah lain daripada kita, walaupun saya tidak melihat dengan mata kepala sendiri, tetapi dengan cerita-cerita. Saya sudah tidak menganggap mereka. Saya tidak mau mencari (kesalahannya) lagi.

Tapi setelah adanya pendekatan dari pihak LDII kepada kami dimana kami sebagai orang MUI, di situ baru kami sangat memperhatikan. Saya lihat sana, lihat sini, meskipun aduan masih ada. Tetapi kenyataannya, orang itu mau dekat. Waktu mereka mau dekat ke MUI itu, tiga bulan minta waktu untuk ketemu MUI supaya minta diterima.

Pada waktu kita menerima, masih ada di antara kita yang khawatir, jangan-jangan penerimaan kita nanti disalahgunakan oleh mereka, difoto dan sebagainya. Sampai kami harus berpikir lagi. Tetapi, kami punya satu pendirian bahwa kapan bisa kita kenal tanpa ada pertemuan. Maka dengan berhati-hati, pertemuan itu kita adakan. Ternyata saya berpikir, dari mulai hamdalahnya, saya perhatikan kok sama dengan kita. Kemudian dari situ, dia (LDII) menyatakan kenapa dia ingin bertemu dengan MUI. Ternyata, karena dia ingin menyatakan bahwa mereka sudah pakai paradigma baru. Pendirian saya, begitu mereka ingin menyatakan diri untuk pakai paradigma baru, yang mengatakan bahwa Islam yang akan mereka ikuti adalah sama dengan Islam yang kami (MUI) pegang.

Setelah itu, saya merasa punya kewajiban untuk mendekati terus, dalam arti kata, ingin mengetahui. Saya beberapa kali dicurigai oleh kawan-kawan, tapi saya pikir saya punya prinsip bahwa saya ingin mengenal siapa mereka (LDII). Saya ingin tahu betul, bagaimana pengakuannya. Saya ketemu orang MUI Pusat, dan dia mengatakan, ”Hati-hati pak Kyai.” Ya, saya akan berhati-hati, tapi saya akan tetap mendekat, karena saya tahu persis bahwa mereka secara lisan dan sikap, sudah mau kembali.

Lebih tegas lagi pada waktu diadakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD LDII Provinsi DKI Jakarta tahun 2007, di mana saya diminta untuk bisa menyampaikan pembekalan-pembekalan. Sehari sebelumnya, saya diketemukan oleh salah seorang sekretaris (LDII) yang minta diceritakan tentang ahlus sunnah wal jama’ah, karena mereka (LDII) sebenarnya menuju ke ahlus sunnah wal jama’ah. Itulah, akhirnya saya sampai ke sana. Saya penuhi undangannya. Saya cerita di samping yang menyangkut tulisan saya sendiri. Saya cerita tentang ahlus sunnah wal jama’ah, dan pengalaman saya hidup bersama-sama orang dengan berbagai paham. Kelihatannya mereka antusias menerimanya. Dari sana, saya itu makin percaya walaupun saya yakin baru segelintir dari mereka. Itu kan baru pengurusnya. Kami belum tahu bagaimana kenyataannya di masyarakat. Maka terakhir muncul gagasan, bagaimana kita kumpulkan kawan-kawan kita dan tokoh-tokoh kita dari beberapa organisasi Islam untuk bicara langsung.

Manqul itu silsilahnya dipandang oleh sementara orang, ada perbedaan, terutama tentang darimana sumbernya? sebab dalam Ilmu hadits, masalah manqul tidak asal ada saja, tetapi sumbernya dicari juga. Saya juga masih mencari itu, di mana sih kekeliruannya.

Sekali waktu diadakan pertemuan di suatu tempat. Saya bertindak sebagai imam, dan sekali waktu saya berada di tempat mereka di mana saya jadi makmum, dan tidak dicuci. Makanya, tuduhan seperti itu juga perlu kita cari kebenarannya. Artinya, kenyataannya memang begitu, apa tidak? Dalam pertemuan terakhir, tidak. Kalau toh itu masih ada, memang barangkali duapuluh atau tigapuluh tahun yang lalu.

Mudah-mudahan beberapa pandangan para ulama tersebut dapat membantu pandangan anda apakah LDII sesat?

Sehat dengan Banyak Teman


Ingin Sehat dan Panjang Umur? Perbanyaklah Teman!

Penulis : Dr. Irsyal Rusad. Sp.Pd | Jumat, 1 Maret 2013 | 08:46 WIB:


Shutterstock
Ilustrasi
Penderita kanker payudara, sebut saja Ny. S, usia masih muda. Usia 33 tahun, cantik, punya anak dua orang. Dirawat beberapa minggu yang lalu karena keluhan mual, muntah, lemah, tidak ada nafsu makan, dan tidak dapat tidur. Sebelum dirawat, penderita baru saja mendapatkan kemo terapi di suatu rumah sakit di luar kota.

Setelah 2-3 hari dirawat, saya  melihat belum banyak perubahan pada pasien. Keluhan-keluhannya seperti tidak  cepat membaik, dan suatu hal yang agak lain saya lihat adalah pasien ini seperti mengurung diri. Saya tidak melihat teman-temannya yang berkunjung, hanya ada keluarga dekat seperti suami, dan orang tuanya.

"Mana teman-temannya?" tanya saya suatu waktu saat visite.

"Ada lah Pak, tapi saya tidak memberitahu bahwa saya dirawat, bahkan teman-teman saya tidak ada yang tahu saya sakit begini, saya malu dan tidak percaya diri kalau mereka tahu dokter", jawab pasien.

"Ya, saya dapat memakluminya, ada beberapa pasien seperti itu, tetapi sampai kapan Anda bisa menutupinya, suatu saat mereka pasti tahu juga. Dan,  teman itu mempunyai pengaruh positif terhadap kesehatan kita. Hubungan-hubungan sehat yang Anda jalin dengan teman-teman Anda, apalagi pada waktu Anda sakit akan mambantu penyembuhan Anda", saya mencoba menjelaskan kepada pasien.

"Apa betul demikian dokter?" tanya pasien lagi.

Sebelum saya menjawab, setelah dia diam sebentar, kelihatan seperti menarik nafas dalam. "Barangkali dokter benar juga, toh saya sekarang tidak lebih baik, saya tidak punya teman untuk mengadu, mengeluh, saya tidak punya teman untuk dapat banyak bercerita tentang penyakit saya, kecemasan, kekhawatiran, ketakutan saya, dan dengan keadaan begini, saya sekarang malah merasa lebih tertekan dokter", sambung pasien.

Beberapa hari setelah itu, waktu visite, suasana di kamar pasien sudah mulai nampak berubah. Buah-buahan, bermacam makanan ringan kelihatan memenuhi mejamya, dan nampak juga beberapa buah karangan bunga di atasnya.

Melihat itu, secara spontan saya bertanya," kelihatannya lain sekarang?"

"Ya dokter, teman-teman sebagian sudah pada ke sini, ini semua dari mereka", urai pasien sambil senyum.

"Ya kan, teman itu menyembuhkan?"

"Ya dokter, saya merasa lebih lega sekarang, saya juga merasa lebih sehat. Saya sekarang punya banyak teman yang mau mendengar, tempat saya mengadu, mencurahkan isi hati, perasaan saya dokter."

Dari hari ke hari suasana di kamar itu saya lihat semakin berubah. Suara gelak, canda, dan tawa semakin riuh saya dengar. Perawat saya pun mulai mengeluh, "ramai sekali dok sekarang di sana, mereka tidak peduli lagi dengan jam kunjungan, jam viste pun masih banyak temannya yang berkunjung", ungkap salah seorang perawat itu. "Nggak apa-apa, biarkan saja, daripada dia tambah sakit kesepian, itu mungkin lebih baik untuk dia, teman-temannya itu dapat menjadi obat bagi dia", jawab saya.

Kemudian, waktu saya visite, memang beberapa temannya masih saya lihat di sana. Salah seorang temannya tampak lagi memijit pundaknya, yang satu lagi sedang mengupaskan apel untuknya, dan yang lain seperti mau menyuapkan oleh-oleh yang dibawanya.  Dalam hati saya bergumam......."hmmmm,  teman-temannya betul-betul menjadi obat baginya."

Tidak lama saya visite, saya tidak ingin mengganggu suasana seperti itu, saya yakin teman-temannya ini sekarang barangkali lebih berarti dibandingkan kunjungan saya. Apalagi, saya lihat pasien ini kelihatannya sudah jauh lebih baik, keluhan-keluhannya sudah membaik, nafsu makannya juga sudah pulih kembali dan tidur pun sudah enak.

Lalu, melihat apa yang dialami pasien ini, saya teringat beberapa penelitian terkait pengaruh hubungan positif antara teman, dan kesehatan seseorang. Teman tidak hanya memberikan efek postif penyembuhan, bahkan juga menurunkan angka kematian dan meningkatkan harapan hidup seseorang. Mempunyai teman dapat mengurangi stress, ketakutan, dan kecemasan. Dukungan sosial yang didapatkan dari teman, menurut penelitian dapat menurunkan debaran jantung, tekanan darah, dan memperbaiki imunitas seseorang. 

Penelitian yang dilakukan di Swedia pada laki-laki paruh baya menunjukkan bahwa mempunyai sedikit teman atau tidak ada teman akrab,  dekat, meningkatkan risiko serangan jantun pertama kali sebesar 50 persen. Studi yang dilakukan di Buffalo, New York pada tahun 2009 mendapatkan bahwa mereka yang paling sedikit memperoleh dukungan sosial paling banyak menderita penyakit jantung, kecemasan, dan depresi. Penelitian pada penderita kanker payudara menunjukkan bahwa mereka yang mendapatkan dukungan sosial hidup dua kali lebih lama dibandingkan yang tidak.

Jadi, teman tidak hanya untuk sekedar bersenda gurau, bercanda, tetapi mempuyai pengaruh positif terhadap kesehatan fisik, emosional, dan bahkan spiritual. Dan seperti yang dialami pasien kanker di atas, teman dapat menyehatkan, membantu Anda menghadapi taruma seperti penyakit. Karena itu, perbanyaklah teman. Semakin banyak Anda mempunyainya, semakin dekat hubungan Anda, maka semakin besar pula dukungan yang akan Anda peroleh.

TEMAN BERGAUL YANG SALEH


TEMAN BERGAUL YANG SHALEH

Sudahkah Kita Menjadi Teman Bergaul Yang Saleh?
ukhuwah islamiyah adalah buah akhlakul karimah sebagaimana akhlakul karimah adalah buah dari keimanan atau Tauhid. Hidup manusia tidak akan pernah lepas dari Tauhid bahkan tujuan penciptaan manusia adalah merealisasikan Tauhid.  Persahabatan yang langgeng dan harmonis adalah yang dibangun di atas Tauhid dan direalisaikan dengan akhlakul karimah. Persatuan dan kesatuan umat Islam hanya akan tercapai dengan ikatan yang kuat yakni aqidah Islamiyyah yang membuahkan akhlakul karimah. Adapun persatuan umat yang tidak didasari Tauhid maka hal itu lebih lemah dari sarang laba-laba walaupun manusia menghiasinya dengan kata-kata manis namun hakekatnya sebuah kamuflase.

Persahabatan sejati digambarkan oleh seorang penyair dengan kata-kata:
صَدِ يقُكَ مَنْ صَدَقَكَ لاَ  مَنْ صَدَّ قَكَ
Artinya: Teman sejati (shodiq) adalah yang jujur kepadamu dan bukan teman yang selalu membenarkanmu”
Sebagian lagi mengatakan:
صديقي من صادقني لا من صدقني وعليك بمن ينظر الإفلاس والإبلاس وإياك من يقول لا باس لا باس.
ArTinya: Teman baikku adalah orang yang jujur kepadaku, bukan orang yang suka membenarkanku. Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan akan kerugian-kerugian. Dan hati-hatilah terhadap orang yang suka mengatakan: Tidak mengapa… Tidak mengapa…
 Teman bergaul yang menutup mata dari kesalahanmu bukanlah teman sejati sebagaimana teman bergaul yang kasar menegurmu ketika melihat engkau keliru bukanlah teman sejati.
Sahabat yang Saleh dan Cara Memilihnya
Sahabat yang saleh akan merasakan apa yang engkau rasakan memperhatikan keadaanmu dan urusanmu, bergembira jika engkau merasa gembira, bersedih jika engkau bersedih. Dia mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai kebaikan itu untuk dirinya sendiri dan membenci keburukan menimpa dirinya sendiri, dia juga tulus kepadamu baik ketika engkau ada maupun tidak ada.
 وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ... الأية * سورة المائدة ٢
Artinya: saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling menolong dalam dosa dan permusuhan....QS. Al-maidah 2
Dia akan menyuruhmu untuk berbuat baik dan akan mencegahmu dari perbuatan yang buruk, dia akan memperdengarkan kepadamu ilmu yang bermanfaat, ucapan yang benar dan hikmah yang tinggi. Dia juga akan mengajakmu untuk beramal shaleh yang berfaidah mengingatkanmu akan ni’mat-ni’mat Allah agar engkau mensyukurinya. Dia akan memberitahukan kepadamu tentang keburukan-keburukanmu agar engkau menjauhinya.

Sahabat yang baik adalah yang memberikan cintanya kepadamu, memaafkan kekeliruanmu dan kesalahanmu, menutupi rahasiamu. Dan jika engkau hendak berbuat baik, ia mendorongmu dan memberi motivasi serta memberikan kabar gembira kepadamu dengan kesudahan orang-orang bertaqwa dan pahala orang yang berbuat baik.
وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ r اُنْصُرْ اَخَاكَ ظَالِمًا اَوْ مَظْلُوْمًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُوْلَ اللهِ اَنْصُرُهُ اِذَا كَانَ مَظْلُوْمًا اَفَرَاَيْتَ اِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ اَنْصُرُهُ ؟ قَالَ تَحْجِزُهُ اَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ فَاِنَّ ذلِكَ نَصْرُهُ *           ] رواه البخارى كتاب الاكره [
Artinya: Tolonglah saudaramu/temanmu yang menganiaya dan juga yang dianiaya. Seorang laki-laki bertanya wahai Rosululloh saya akan menolong pada saudaraku ketika dianiaya, lalu bagaimana pendapatmu ketika saudara saya menganiaya, bagaimana menolongnya? Rosululloh SAW bersabda; engkau mncegahnya berbuat penganiayaan, demikian itu adalah menolongnya.
Ia juga akan ikut melakukan perbuatan baik itu bersamamu dan akan beusaha membantumu. Jika engkau mengatakan sesuatu yang buruk atau mengerjakan suatu kejahatan ia akan mencegah dan melarangmu serta akan menghalangi maksudmu. Sahabat yang saleh tidak akan merasa bosan di dekatmu dan tidak akan melupakanmu bila jauh darimu. Jika engkau mendapatkan kebaikan ia akan mengucapkan selamat kepadamu, dan jika engkau terkena musibah ia akan menghiburmu. Dia akan membuatmu senang hati jika engkau memperhatikan pembicaraannya dan membuat engkau suka dengan apa-apa yang dilakukannya.
          Demikian juga orang yang membantu suatu kejahatan walaupun dengan sepatah kata maka dia berstatus sama seperti pelakunya. Dan semua perkataan yang dilarang maka dia tergolong ucapan yang tidak bermanfaat. Dan Allah memuji orang yang meninggalkannya, sebagaimana firmanNya dalam Al Qashas:55

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ
Artinya:Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya”
          Terkadang teman yang jelek itu begitu kuat sehingga engkau tidak kuat melawannya dan tidak pula sanggup mengingkari perbuatannya. Maka yang terbaik bagimu adalah menjauh darinya sehingga engkau tidak terjatuh dalam dua kemaksiatan sekaligus yakni mendiamkan kebatilan dan sepakat dengan pelakunya.

Senin, 04 Maret 2013

Hukum Berjilbab



  Beberapa Contoh Berjilbab yang salah


Berjilbab yang benar

Dewasa ini, pengaruh Globalisasi sangat dapat dirasakan terutama dalam gelombang arus budaya barat yang seakan-akan menyerang dan menang. diantaranya dalam urusan mode, bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim seakan pasrah dan seperti terhipnotis dengan perkembangan mode dewasa ini. para muslimah seakan-akan berlomba-lomba mengikuti mode dunia walaupun itu sangat bertentangan dengan hukum berpakaian dalam Islam, maka dengan itu perlu adanya peringatan dan koreksi dari para ahli hukum Islam (para Ulama) dalam membina umatnya, berikut adalah beberapa dalil syar'i tentang wajibnya memakai jilbab bagi muslimah:
بسم الله الرحمن الرحيم
1.        يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ . سورة الأعر ٢٦
Artinya: wahai anak Adam, sesungguhnya Kami (Alloh) telah menurunkan pakaian yang menutupi aurot kalian dan pakaian luar (pakaian pelengkap), dan pakaian ketakwaan (menutup aurot) lebih baik, demikian itu merupakan ayat-ayat Alloh agar kalian mengambil peringatan.
2.        عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ الْمَرْأَةُ عَوْرَهٌ فَإِذَ خَرَاجَتْ إِسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ . رواه التّرمذى
Artinya: dari Nabi SAW, beliau bersabda: seorang perempuan itu aurot (tubuhnya harus ditutupi) maka ketika dia keluar, syaitan akan menghias-hiasi padanya.
3.        وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . سورة النور ٣١
Artinya: dan katakanlah (Muhammad)! Kepada orang-orang iman perempuan agar mereka memejamkan mata mereka dan menjaga farji mereka, dan janganlah menampakan perhiasan (aurot) mereka kecuali pada apa-apa yang boleh tampak dari perhiasan, dan hendaklah mereka menjadikan kerudung mereka menutupi dada mereka, dan janganlah mereka menampakan perhiasan mereka (aurot) kecuali pada suami mereka atau bapak mereka atau bapaknya suami mereka atau anak laki-laki mereka atau saudara laki-laki mereka atau anak laki-laki saudara laki-laki mereka atau anak laki-laki saudara perempuan mereka atau sesama perempuan iman mereka, atau budak mereka, atau pengikut mereka yang tidak/belum memiliki hasrat dari orang laki-laki ataupun anak kecil yang mereka belum mengenali aurot perempuan, dan janganlah mereka menampakan kaki mereka agar di ketahui apa yang mereka samarkan dari perhiasan (aurot) mereka dan bertaubatlah kepada Alloh semuanya wahai orang-orang yang beriman! Agar kalian beruntung.
4.        عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ : وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا. قَالَ : وَجْهَهَا وَكَفَيْهَا وَالْخَاتَمَ . في تفسير ابن كثير
Artinya:  “dan janganlah menampakan perhiasan (aurot) mereka kecuali pada apa-apa yang boleh tampak dari perhiasan” Ibnu Abbas berkata: wajahnya, kedua telapak tangannya dan cincinnya.
5.        وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأُولَى...الأية . سورة الأحزب ٣٣
Artinya: dan berdiamlah mereka (Perempuan Iman) di dalam rumah mereka, dan janganlah mereka berhias seperti berhiasnya perempuan jahiliyah dulu...
6.         قاَلَ رسول الله صلى الله عليه وسلم (صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا. قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النٌّاسُ. وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ، مُمِيْلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رَؤْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا. وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرِةِ كَذَا وَكَذَا).  رواه مسلم فى كتاب اللباس
Artinya: Rosululloh SAW bersabda: ada dua golongan dari ahli neraka yang keduanya belum aku lihat. Kaum yang bersama mereka beberapa cambuk seperti ekornya sapi. Mereka mencambuki manusia dengan cambuk tersebut (Penguasa yang kejam). Dan perempuan-permpuan yang berpakaian (tapi) telanjang (memakai pakaian tipis dan ketat), yang mempengaruhi jelek kepada orang lain lagi menyondongkan (dalam berjalan dibuat-buat), kepala mereka seperti punuknya onta yang condong (rambutnya di sanggul dengan berbagai model), mereka tidak masuk surga dan tidak mencium baunya surga, dan sesungguhnya baunya surga niscaya dijumpai dari perjalanan sekian dan sekian (40 tahun perjalanan).